Sahabat dan Kompetitor

by - Oktober 15, 2012

      Yuippp,, lama ga nulis tentang Master Chef Indonesia nih, sejak kemunculan blackteam sampe top 2 baru nulis lagi, sibuk sih #eh :D
      Jadi, menurut analis saia -weh,salah program tv-, jadi, hari minggu ini adalah episode perebutan top 2. Berawal dari tantangan bikin pasry dish dari chef HENDRY siapa gitu, beliau kerja di australia kayaknya. Dan pernah buatin tart untuk Orah dan Celin Dion. WOW banget kan ya... Kalo kalian liat gimana itu bentuknya, emm, enak banget. Semuahnya serba coklat , tantangannya adalah pastry dish coklat dengan 7 tekstur yang berbeda dalam satu sajian |panjang amat|. Ya, udah top 3 kan tingkat kesulitannya adalah tinggi dong ya~~. Wktu yang diberikan adalah 3,5 jam. Dengan waktu yang seperti itu, bisa ditebak kalo tingkat kesulitannya memang tinggi. 
      Oke, ketika mereka mulai memasak, ada kesalahan yang dilakukan oleh OPIK, pas nyampur coklat sama coklat |lhoh, maklum deh, aku ga dong masalah teknik dan resep|, jadi pokoknya ada yang salah deh :D, tadi ibu DESI juga ngelakuin kesalahan, yaitu, mush nya terlalu encer, itu bikin sulit tiris katanya. Mmmm, dan yang dipuji adalah KEN, dia kerja telaten banet, dan managemen waktunya suip sekali katanya. Walhasil, pemenangnya emang bener2 KEN. 7 tekstur yang berbeda itu dia dapet banget, didukung sama rasanya yang mendekati perfect kalo kata Chef JUNA. Congrats ya KEN. Sampe sampe, ketiga dan juga Chef bintang tamu itu ndukung KEN pindah ke pastry chef :3. Ya, semua dikembalikan ke KEN ^^.
      Kemudian, tantangan selanjutnya adalah menduplikasi LAGI masakah seorang Cef dari Bali yang menang di perlombaan tingkat dunia, aku lupa lomba apa, hehe, yang pasti TOP BEGETE. Jadi, sepertinya disuruh masak RISSOTO dan kawan kawannya. |aku tidak mudeng lagi bagian ini|. Yah, intinya makanannya begitu :D. Dilihat dari hasil penilaian masakan, rissoto punya ibu DESI itu GA MATENG, dan itu mendapat krotikan pedas, tapi untuk masakan yang lain enak banget, setidaknya itu menyelamatkan. Untuk OPIK, rissotonya kurang hijau, dan kayaknyaga mateng juga, aku lupa.. Kemudian KEN, rissotonya malah overcook. YEAP, dari hasil penilaian itu, yang menang adalah ibu DESI. \\(^O^)//.
      Otomatis deh, ibu DESI jadi runner UP dan KEN OPIK harus masuk pressure test. Mereka yang memiliki persahabatan yang erat harus berkompetisi untuk memperebutkan tiket ke GRAND FINAL. Dan yang harus mereka lakukan di pressure test ini adalah masak RAVIOLI DUCK apaaaa gitu... Dibawahnya ada bayam hijau dan merah yang di mix. Terus ada saus kuning dari apaaa gitu :D. Pokoknya menduplikasi juga, Penilaian dilakukan secara tertutup. Nah, disini letak persahabatan mereka mengguncang. KEN lebih dulu menilaikan hasil masakannya, dan dia menunggu di suatu ruangan. Kemudian OPIK, dan ternyata dia menyusul juga di tempat yang sama. Ketika mereka bertemu, langsung bersalaman dan berpelukan, Tak disangka, mereka harus saling menjadi kompetitor. Rasanya pasti gak enak banget.  Ada rasa haru yang tercipta disana. Walau sempat terjadi keheningan sebelum ada suara yang memecahkannya
      Saatnya penilaian dan penentuan, siapakah yang menjadi kompetitor bu Desi selanjutnya. Sebelumnya, mereka saling ditanyai, apa yang kau rasakan jika kau kalah.
OPIK : yang pasti kecewa, sedih, tapi bangga juga, Kecewa karena sudah sekuat tenag aku sampai disini, sedih,,tinggal selangkah lagi menuju final. Bangga, karena salah satu sahabatku bisa menjadi top2.
KEN : kurang lebih sama, sedih dan kecewa karena mengecewakan keluarga dan semua orang yang mendukungnya. mengecewakan tunangannya terutama. Banga juga karena sahabatnya dapat melaju ke top2. mmmm,, oke fine. Rasa haru mulai muncul. dan ternyata, pemenangnya adalah OPIK Congrats yaaaaa...
       KEN dan OPIK langsung berpelukan. Sebelumnya, mata mereka sudah berkaca-kaca. Dan KEN semakin menjadi dengan menitikkan setetes air matanya.. Oke, semuanya adalah kompetisi. Harus ada yang pulang. Oke KEN.. tetap semangat... Pastry chef keren juga kok :)

      Sekian Ceritakuuuuuu ~~

You May Also Like

0 komentar

. . . .