Maaf aku hampir lupa suaramu :'(

by - Desember 28, 2012

      27 Desember 2012

      Pamujan, Paguyuban Muda Mudi Jebugan. Seperti adat dan kebiasaan selama 29 tahun ini. Mengadakan acara tirakatan menjelang pergantian tahun menuju lembaran hidup selanjutnya. Kita, kita semua berkumpul dan bercanda tawa. Menjalankan acara demi acara yang tersusun apik. Beberapa foto dari jaman bahelak bakal menarik urat senyum kita, bahkan menciptakan tawa. Semua berjalan sampai kepada pemutaran Ketoprak dengan judul Suminten Mendem Lanangan sepuluh tahun yang lalu. Ya sepuluh tahun.
     Disc pertama kumasukkan dalam laptop tetangga. Loading, kemudian ada intro dari salah seorang bapak yang ada di desa kita. Monolog selama kurang lebih sepuluh menit. Untuk jaman segitu, itu terhitung lucu. Sampai sekarang pun kita masih saja tersenyum. Tiba kepada dua tokoh perempuan, mengenakan kebaya kuning dan biru. Si kuning tampak cocok karena dia terlihat putih, agak sedikit nyempluk dibanding si biru. Dia terlihat ramping, hanya agak sedikit coklat dibanding si kuning. Mereka adalah dua kakak perempuanku.
     Tadi, Kakak sepupu laki-lakiku, memanggil dengan lantang dari arah layar. Aku hanya tersenyum kala itu, masih bisa menahan gejolak yang mulai tumbuh dalam hati. Beberapa percakapan dalam viewer berlalu, ada yang memanggilku lagi. Tetangga beda RT yang notabene dekat juga dengan keluargaku. Dengan volume yang sama, kata yang sama, dan aksen yang sama dengan panggilan sebelumnya. Kala itu hati ini sudah mulai  goyah. Terasa basah di kelopak mata bawah. Hampir air ini menggenang memudarkan pandanganku. Aku masih bisa bertahan. Panggilan mereka ini, tak bisa kuungkapkan. Aku hanya bisa menahan sampai pada akhirnya kornea ini tenggelam dalam air mata.
    Mengalir begitusaja dari sudut luar, basah menuju pipi. Sudah tak kuasa kumenampung sedih yang menyayat. Si Biru. Kakak perempuanku nomor dua. Namanya Era. Sepuluh tahun yang lalu mungkin dia sudah menjadi mahasiswa universitas ternama di Yogyakarta angkatan pertama. Karena aku ingat, satu tahun sebelumnya dia mendapat Piagam Penghargaan sebagai PASKIBRAKA, sepertiku pada tahun 2009. Tepat satu tahun. Terlihat cantik. Badannya kecil seperti yang diidamkan wanita saat ini. Hidungnya lebih mancung daripada kakak dan adiknya dan aku. Matanya lebar sepertiku. Ternyata, seperti ada gingsul di sebelah kiri, malah membuatnya nampak ompong, tapi manis. Andheng-andheng di hidung sebelah kiri tak nampak, tertutup make up. Padahal dalam keseharian, bagian itu cukup menarik perhatian, membuatnya terlihat lebih manis. Nyatanya, semua itu membuat air mata ini semakin deras mengalir. Padahal aku duduk tepat di depan laptop yang bisa saja kalian melihat derasnya aliran ini. Syukur alhamdulillah, lampu gedung kemudian dimatikan :).
     Enam tahun yang lalu, si Biru meninggalkan kami. Sakit rasanya. Belum cukup mengerti apa yang sedang terjadi kala itu. Dia benar-benar pergi tak kembali. Kupikir itu hanya akan sementara. Kupikir dia bisa kembali dan hal itu adalah mustahil. Allah menyayangi dia. Pangeran tak ingin melihat dia menderita lebih lama di kefanaan ini. Satu tahun dia menahan segala cobaan dari Yang Kuasa. Terakhir kami bertemu, dia tertidur dalam ranjang itu. Entah benar terlelap atau hanya terpejam aku tak mengerti. Kemudian ku bergurau dengan kakak lelaki di taman kamar. Karena kamar terakhir yang dia pakai cukup mewah. Dan selama satu minggu setelah itu, Ibu tak mengijinkan aku datang menjenguknya lagi. Alasannya adalah karena dia butuh perawatan intensif agar cepat sembuh. Aku menurut saja dengan lugu. Satu smp. Dalam tenda tetangga, pada suasana Gempa Jogja. Kabar itu datang dan aku masih tak percaya. Yang malam sebelumnya tak dapat kuterpejam dengan segera hanya teringat selalu akan dirimu. Nyatanya itu adalah firasat.
     Kembali pada diri yang terduduk di depan laptop. Semacam leluasa mengalirkan basah melalui pipi. Gelap sangat membantu. Hidungku hampir mampet. Mendengar dan melihat gambarmu. Mendengar suaramu apalagi. Sungguh itu terlalu menggores lara. Terlalu khas untuk diingat. Hampir saja aku lupa dengan suaramu. Kenanganmu tertumpuk hampir di paling dasar. Lama kuuntuk mengangkatnya kembali ke permukaan. Sembari mendengarkan lagi apa yang kau ucapkan. Dialog tentang canda burung tertembak pun tak mempan membuatku tersenyum. Sedih. Aku benar menangis.
    Ketika ada suara menyuruhku untuk mempercepat laju film tersebut, hati ini tak rela. Aku masih ingin memandangnya lebih lama. Mendengar suaranya lebih banyak. Aku ingin menambah ingatanku tantangnya lagi. Umurku yang segitu, tak cukup banyak memori dengannya. Ketika ada bagian dimana dia di zoom. Kuhentikan laju itu, dan kalian terdiam. Mungkin kalian mengerti dengan perasaanku. Rindu yang mendalam. Kalian tak berkutik, seakan akulah yang berkuasa kala itu. Tak ingin membuat mereka menunggu, kupercepat laju dengan sangat terpaksa. Maaf... :(
   Sampai kepada aku harus berbaur dengan mereka lagi. Kuseka air mata ini. Kuhapus jejak aliran basah. Dan mencoba mengikuti arus tawa. Namun hidungku tak dapat berbohong. Hidung yang setengah mampet ini terdeteksi oleh yang lain. Salah seorang memergokiku. Aku mengelak, dia tak percaya. Baiklah, dia pergi.
     
     Aku kangen kamu. Aku kangen suaramu. Aku kangen yang sebenar-benarnya dari dirimu mbak.. Kalau kamu masih ada, mungkin kita sekarang menjadi sahabat baik. Saling bercerita. Tak seperti kakak tertua kita. Dia masih tetap galak, tapi kamu juga ga kalah galak. Aku sudah kuliah sekarang, dan aku hampir ujian semester genap. Kalau kamu mungkin sudah bekerja dan sukses. Atau bahkan punya pacar. Dan mungkin akan seru hidup kita. Semua hanya bisa mungkin. Baik-baik ya disana. Aku akan selalu mendoakanmu. Ya Allah, sampaikan salam cium dan cinta ini kepadanya. Bahagiakan dia Ya Allah, selama hidupnya kuingat dia belum terlalu berbahagia dengan kami. Buatlah Ya Allah.. :)
    

You May Also Like

2 komentar

. . . .