#PuingImaginasi -1

by - Desember 11, 2012

      Senja tak seperti senja. Tergantikan kelamnya kelabu yang berat membawa ribuan titik hujan didalamnya. Berjalan seakan terseok-seok terdorong oleh kuatnya gerakan udara diatas. Berhenti dan mengaku lelah tepat di atas gedung dimana kuberada. Melongok sedikit ke arah gumpalan awan yang kasihan itu, memang terlihat kelam. Kuberniat masuk saja, melindungi diri dari hempasan angin yang mulai kencang menerpa tubuh.
      Ada suasana berbeda di dalam. Mereka tampak melirikku genit. Seakan ada gadis lucu yang menari-nari menggelikan mereka. Kulihat pergelangan kiriku. Jam. Dimana jamku. Ah, tas. Melangkahkan kaki menuju sebuah ruang dimana aku meletakkan tasku. Ada yang berbeda lagi. Pintu yang biasanya terbuka membiarkan angin menelusup masuk hari itu tertutup. Mungkin mereka kali ini menolak angin yang memang hadir dengan paksa.
      Ketika handle-pintu kufungsikan, terbukalah. Semua kejanggalan dalam benak terjawab. Dia, Dito. Sedang menggenggam kertas panjang di depan dadanya. Kertas bertuliskan apa yang ternyata adalah rasa yang selama ini dia simpan baik. Kepadaku, rasa itu dituliskan. Kepadaku, rasa itu disampaikan. Ada banyak tanya dan nyata yang tumbuh seribukali cepatnya dalam benakku dan mereka bertubrukan satu sama lain saat itu juga. Hingga akhirnya tidak ada yang tersampaikan dengan benar apa yang bisa kuungkapkan. Tapi memang fikir dan rasa itu dua yang sehati namun tak bersatu. Muncul rasa bahagia. Ada seseorang yang peduli dan menyukaiku. Muncul rasa bingung. Apa yang sebenarnya dia sukai dariku. Yang terakhir, muncul rasa bersalah. Aku tak bisa.
      Terpaan angin ini semakin menembus pertahanan tubuh. Aku tau semua merasakan dingin yang keterlaluan malam ini. Dan aku tau dari mata mereka. Semua kecewa. Ada yang mengumpat, ada yang meredakan, bahkan ada yang mendukung. Mereka memang beragam. Tapi itulah yang bisa kusampaikan. Rasa yang terakhir. Syukurlah dia mengerti. Hanya saja memang tak bisa. Ada beberapa hal yang memang tak bisa untuk dijelaskan secara gamblang.
        Ketika itu, kutahan bulir air mata yang mulai mengumpul dan mengaburkan pandanganku. Dia baik. Kurasa harusnya aku tak begitu. Tapi harus bagaimana agar ini tidak menyakitinya. Senyumnya selaksa topeng yang didalamnya terdapat ribuan jarum yang harus dipasang untuk menyakitinya. Maaf. Kutengadahkan kepalaku berharap buliran itu masuk kembali. Dalam blur-nya pandanganku, ada sosok yang tak asing. Menatap kearahku seakan dengan senyum lebar yang ringan pula. Mata sudah tak berkaca-kaca. Senyum makin mengembang ketika ia mengerti aku menyadari keberadaannya dari lantai atas itu. Seketika dia membalik badan dan berlalu.
      Dia..


     

You May Also Like

2 komentar

. . . .