PuingImaginasi -2

by - Desember 26, 2012

      Sore ini indera penciuman semacam asing dengan runtutan aroma yang masuk. Mereka tak terdaftar dalam aroma semesta yang biasanya. Mereka juga tak terdaftar dalam aroma rasa yang dipastikan lebih absurb dari ini. Aroma kimia. Indera penglihatan juga sama. Kornea menangkap gambaran aneh disetiap dia merekam. Terlalu banyak warna hijau yang diam dan putih yang berkelebat kesana-kemari. Rumah Sakit. Pintar sekali otak ini menjawab keragu-raguan organ pada kepalaku ini.
      Kamu. Terbaring lemah diatas ranjang berselimut putih di dalam kamar bernuansa hijau itu. Tangan kirimu bertautan dengan botol sedang bernama infus melalui sebuah selang kecil yang bening. Tangan kananmu pasrah di atas selimut yang menutupi perutmu. Wajahmu teduh. Seakan kamu menikmati keadaanmu sekarang. Bukalah matamu, lihat kami disini. Berharap kedatangan ini memberi semangat untukmu. Dibalik jendela sendirian kubergumam.
      Kami masuk. Melihat dengan jelas keadaanmu. Masih lemah. Kelopak matamu masih menutup rapat, tapi dahimu berkerut. Ternyata kamu tak sepenuhnya terlelap. Kamu hanya terpejam. Perlahan membuka mata karena kebisingan kami yang notabene belum bercakap sedikitpun. Wanita luar biasa disampingmu menyunggingkan senyum kepada kami. Setelah matamu terbuka, senyum itu hadir untukmu. Pun kami, sejak awal di ambang pintu, senyum sudah tercetak dengan baik. Kemudian percakapan sederhana kita semua terjadi.
      Apa kabar kamu yang terbaring disana? Sudah mendingan kah? Apa yang kamu rasakan sekarang? Sakit kah? Dibagian mana? Bisakah kamu beritahu aku? Mungkin aku bisa sedikit membantu kalau bisa.. Haha, bercandaku kelewatan ya? Apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi rasa sakitmu? Haruskah aku membuat kelucuan didepanmu saat ini? Jangan deh, ini rumah sakit. Takut yang lain terganggu. Lalu apa? Mungkin kamu ingin berbagi sakit denganku? Tunggu, kenapa pertanyaanku meracau begini? Dalam keheningan sebelum percakapan kita, dipikiranku sudah berisik. :) Aku memang hanya sosok yang ada di barisan sama dengan teman-teman yang lain. Aku teman. Jadi, pertanyaanku pasti sama dengan yang lain. Aku teman. Tidak mungkin aku tahu sebelum teman-teman tahu jawabannya. Aku akan tahu sama dengan teman-temanku akan tahu. Aku teman(mu). Lagi-lagi aku meracau sendiri.
      Salah seorang dari kami menanyakan keadaanmu pada ibumu. Kamu sudah baik-baik saja jawab beliau. Tinggal meningkatkan daya tahan saja. Jikalau daya tahan sudah membaik, kamu akan diperkenankan pulang. Ketika pulang kamu juga kudu banyak istirahat. Banyak makanan yang harus kamu jauhi saat ini. Begitu penjelasan panjang ibumu. Serentak kami mengiyakan. Menyemangatimu agar kamu segera terbebas dari kamar hijau ini. Terlebih aku. Kembali dengan kalimatku yang berkecamuk sendirian tanpa suara. Kamu, cepat sembuh ya.. Semua larangan itu, membuatku iba padamu, tapi itu memang untuk kebaikanmu. Tapi, aku tak pernah melarang hadirnya bayangmu dalam rinduku. Apa-apaan. Memang ini aku sendiri yang mengada-ada kehadiranmu.
      Tunggu, sejak kapan kamu menatapku begitu? Dan sejak kapan aku juga menatapmu begini? Apa yang kulakukan? Sampaikah semua tanya dan nyataku ini kepadamu? Ah,,. Senyummu. Kulihat wajahmu tak sesendu tadi. Hanya beberapa waktu yang kita lewati dengan percakapan sederhana kita semua, kamu terlihat lebih bersemangat. Kemudian,
      "Ibu, namanya Fia" ,
      Kalimat itu terucap dari bibirmu. Seketika jantung ini berdetag satu kali, dan keras. Dheg. Untuk apa kamu memperkenalkanku kepada ibumu? Hanya aku? Bagaimana dengan yang lain?
      "Boleh kan Bu?"
      Lagi, kalimatmu lagi. Boleh apa? Mungkin disana aku hanya terlihat seperti orang bodoh. Kuperhatikan dengan tanya besar lewat korneaku kepada teman di sampingku. Kepada yang lain, kepada ibumu, dan kepadamu terutama. Kepada ibumu kukembali berbalik menatap. Ada seringai senyum yang ada. Senyum? Ibumu tersenyum manis kepadaku. Tatapnya benar hanya tertuju kepadaku. Ini apa?  
      "Boleh."
      Jawaban yang semakin membuat rasaku penasaran. Jantungku berdetak seakan ada perlombaan drum disana. Semua teman-temanku, teman-teman kita ber 'cie-cie' untuk hal yang barusaja terjadi. Senyum menjadi hal yang tampak biasa sekali kala itu. Ternyata,
      Selain kunjungan kami kepadamu, ada maksud yang kalian rencanakan. Kamu berusaha mengutarakan maksud hatimu kepadaku. Cara yang nyatanya bukan yang biasa. Bahkan melewati orang terkasih dalam hidupmu. Beliau ibumu. Sungguh, nyata yang membuatku tak sadar dalam kenyataan ini. Kupikir aku meracau lagi, tapi ini nyata. Kurasakan hangat pipiku sendiri, sepertinya ini memerah. Aku tersipu, aku tersenyum. Semua nampak bahagia, pun kamu. Kemudian, 
      Bolehkah aku menyebutnya kita??

You May Also Like

0 komentar

. . . .