Kronologis

by - April 06, 2013

     Ahad 17 Maret 2013, badan ini panas tinggi, 38,5 derajat celcius. Mungkin secara medis, panas tinggi itu menyebabkan pusing di kepala penderita, buktinya, dengan beberapakali panas tinggi, aku merasakan pusing. Mungkin saja begitu. Dan kurasa, penyebab dari panas tinggi ini karena kena angin malam selama 2jam.an di jalan, nyetir. Dari solo sampe jogja. Haha. Kemudian, aku mengadu pada ibuku. Disuruhlah menelan obat penurun panas, ya taulah apa itu. Akhirnya aku minum. Setelahnya, Ibu mengajakku ke suatu tempat. Em, ya mengigat kondisi badan yang begini aku menolak. Namun, dengan bujukan yang membuatku mikir panjang dan melihat kerugiannya, aku iya-kan saja pergi kali ini, toh udah minum obat. Kemudian perjalanan dimulai.
     Sepanjang jalan sebelum di "tempat itu", baik-baik saja. Setelah beberapa meter mendekat, sedikit merasakan ada yang ga fokus nyetir. Ibuk, hehe.. Mau mendahului mobil yang sedang aktif lampu sein ke kiri, dan ibuk ingin mendahului lewat kiri, sesadarku, aku mengingatkan ibuku. Kemudian berlanjut aman. Setelah itu, diulang lagi, kali ini bus, bukan mobil. Beberapa meter setelahnya, ada mobil putih -seingatku begitu- dikendarai dengan amat pelan sekali. Ibu yang gemes dengan orang yang mengendarai begitu, kemudian bermaksud mendahului dari lajur kanan. Kebetulan waktu itu juga kosong. Dan ternyata di depan mobil ada motor yang dikendarai oleh seorang wanita muda. Setelah setengah badan mobil terlewati, maksud mungkin ingin mendambah kecepatan. Kemudian kulihat motor itu aktif lampu sein ke kanan. Oh meeennn. Celakanya, ibu tidak melihat itu -katanya- dan ketika mulai kencang, motor tersebut langsung belok ke kanan, kemudian, aku ingat ibu dan aku berteriak. Dan aku ingat, mulai saat itu pandanganku mengabur, dan
terjadilah........
     ...
     Ada yang aneh sedang terjadi di kepala kananku. Kubuka mataku perlahan. Mata ini meraba sekeliling. Aku merasa asing disana, dimana? Benar, perasaan ini sama seperti sinetron-sinetron pas adegan orang sadar dari pingsan atau apapun itu. Dimana aku? Kenapa aku disini. Apa yang aku lakukan? Ya, aku mengakui tanya itu benar adanya. Kemudian kepalaku serasa ditarik dan ditusuk seperti orang sedang merajut di kepalaku.  Seraya aku berteriak kencang menahan sakit. Dua orang lelaki tak dapat kumelihat mereka. Dibelakang, yang kupikir aku sedang benar dijahit kepalanya. Kemudian teriakanku makin menjadi. Aku dimarahi, Tak boleh aku berteriak katanya. -Urat kali mereka ini, itu zakit.- Kemudian aku melihat ibuku di sebelah kiri. Ya, aku hanya dapat menoleh ke kiri, mereka menjahit di kepala kananku bagian belakang. Ibu, nampak memerah di bagian pipi atasnya. Sakit hati ini melihat ibu seperti itu. Rasanya biar aku saja yang mengalami. Kemudian aku mengingat cerita sampai pandanganku mangabur itu. Setelahnya, aku tak tahu apa-apa.
     Aku teringat pada jaketku yang berisi hapeku dan hape ibu. Kemudian kulihat bapakku, tetanggaku dan istri tetanggaku. Juga tetanggaku yang lain dan beberapa kawan bapakku yang tak kukenal, Kupanggil segera bapakku, aku meminta jaketku. Diberikan. Kulihat merah darah membercak disana. Di bawah bahu. Dan di bagian dada depan. Jadi, waktu itu, apakah darah mengucur terlalu banyak dari tempat yang dijahit ini? Ah, itu semua membuatku pusing. Kemudian kedua hape itu masih ada.
   Aku ditanyai oleh bapakku apakah ibu sebelumnya membawa tas. Kujawab tidak, lalu bapak menggeledah saku ibu. Ya, uang itu masih utuh di sakunya. Alhamdulillah.
     Kemudian dibawalah tubuh yang terbaring lemah ini menuju sesi foto. Terang saja bukan di studio foto, tapi di laborat. Semacam CT SCAN begitu. Diangkatlah aku ke dalam alat yang kalian bayangkan itu. Sakit ketika badan ini diangkat, terlebih kepala. Entah mengapa. Setelah itu, aku dibawa ke bangsal. Disana aku masih sendirian, bapakku menunggu ibu di UGD karena belum sadarkan diri.
    Lantas, dengan dua korban dalam satu rumah ini, bapakku merasa tak sanggup untuk meladeni keduanya. Kemudian beliau meminta kakak perempuanku yang nun jauh di pulau berbentuk K sana untuk pulang. Dengan bahasa dan berita yang sedikit dilembutkan, akhirnya dia pulang sebelum waktu yang diperbolehkan.
     Singkat cerita, aku dirawat selama 5 hari, dan ibu nambah dua hari dari waktu aku keluar. Begitulah kronologisnya.

You May Also Like

0 komentar

. . . .