maaf, saya hanya bermaksud..

by - Juni 27, 2013

      Sampai jumpa jogja..


      "Iya, aku juga bakal ninggalin Jogja mas, tapi cuma dua bulan aja. Dua bulan kok. Engga lama.. "
Dua bulan yang justru melawati hal hal besar.

      Sebagai anak rumahan, ini adalah kali pertama aku hidup jauh dari keluarga. Tidak sendiri, aku bersama teman-temanku yang bersedia kurepoti. Merasa banyak salah sama mereka, ya, karena selama ini aku dan kesibukanku. Sebelumnya, aku minta maaf sama kalian dan juga, terimakasih tulus dari ini *tunjuk hati*.
     Ada sedikit ketakutan ketika aku akan pergi menjauh dan mencoba hidup sendiri. Langsung di kota tersibuk, dan di pusat padatnya ibukota. Tapi Tuhan telah menunjukkan apa yang harus aku lakukan, itu berarti aku bisa melaluinya. Selalu ingat bahwa Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuan, jadi, aku pasti bisa. Memupuk keyakinan dan semangat untuk bulan bulan kedepannya. Terlebih, disana kami akan melewati Ramadhan bersama, bahkan Hari Raya Idul Fitri, kami disana. Pada awalnya, memang terasa berat, kemudian aku membuka mataku, bahwa semua tidak kulakukan sendiri. Aku bersama kalian. Dan kalian merasakan hal yang sama denganku. Yup, kita bersama. Lambat laun, aku mengerti. Aku mulai paham dan bisa menerima semuanya. Sekarang semangatku hampir penuh. Semangat ini hampir menuju ke arah yang menggebu-gebu. Satu hal yang mungkin dapat menyenangkan hati adalah, mungkin Tuhan memaksaku untuk berlibur dengan cara ini. Dengan menempatkan kegiatan ini jauh dari tempat yang biasanya. Jauh dan sangat berbeda. Karena memang, untuk sampai di penghujung tahun ini, aku tidak bisa melakukan apapun *baca = libur panjang*. Jadi, asumsukanlah begitu saja. Ini lebih menghibur.
     Ketika usaha memupuk semangat sedang berjalan, kemudian tersulut oleh beberapa serapahan dari orang lain. Entahlah, aku hanya tidak suka saja. Mungkin, orang-orang yang sudah pernah atau bahkan sedang menjalani hidup jauh dari keluarganya pernah merasakan hal seperti ini di awal, dan mereka bertahan dengan perasaan masing-masing. Memendam kerinduan berlebih bahkan sampai sakit. Atau bagaimana aku tidak tau karena aku belum mengalaminya. Tapi, bukankah itu sudah menjadi keputusan mereka juga ketika ingin menjalankan hidup yang seperti itu?  Dan banyak orang bilang bahwa keputusan itu selalu datang bersama dengan resiko yang diambil. Kemudian, pantaskah jika menyalahkan orang lain atas keputusannya SENDIRI tersebut? Kurasa tidak. Seakan bahwa keputusannya itu karena salah orang lain. Bahwa yang tinggal di kota perantauannya itu adalah salah. Ketika kemudian orang yang diperantauannya itu merantau di tempat lain, seakan mereka bahagia dengan itu. Penderitaan yang terbalaskan. Begitukah?? *maaf, ini memang bermaksud.. Kemudian aku menyudahi prasangka ini.
      Mungkin orang2 yang ada di tempat perjuanganmu sekarang sedang minta maaf bila kelakuan mereka justru menimbulkan kecemburuan kerinduan yang mendalam. Karena mungkin mereka tidak tau benar apa yang dirasakan oleh kalian. Tapi, jangan salahkan mereka. Jangan pernah menyebutkan bahwa ini adalah sebuah pembalasan.

Terkecuali jikalau ini adalah keputusan bersama

You May Also Like

4 komentar

. . . .