Dua Puluh Dua yang Harus Basah

by - Juli 23, 2013


  Menapakkan kaki sampai ke lantai tiga cukup membuat “hosh hosh”. Sebelumnya, aku mengorek informasi dahulu apakah korban berada di tempat atau sedang berburu. Kabar bahwa dia sedang berburu cukup memberikan peluang untuk melancarkan aksi. Sesampai di atas, hanya dijumpai oleh seorang Budi yang terduduk manis di kursi koridor. Kemudian kami  -sebut saja aku dan mifta- sebentar menghela nafas atas perjuangan yang menguras nafas tersebut. Darisitulah, rencana mulai dimatangkan. Mifta ikut terduduk di kursi lain di samping Budi. Banyak camilan disana, kemudian dia mulai tergoda. Sementara aku melihat situasi dan kondisi, apakah tempat memungkinkan untuk membuat basah atau tidak. Kutemukan ember tertelungkup sebanyak empat buah. Kupisah satu dan kukucurkan air dari kran. Kemudian aku berfikir, “mungkin ga ya?”. Ah bodo amat, yang penting diisi dulu embernya, kalaupun nanti acara ini tetap kering, apalah daya. Yang penting perjuangan nyari perkakasnya ga sia-sia. Kemudian aku kembali ke arah mereka yang duduk. Tak ada keinginan untuk duduk, aku mencoba mengamati lorong masuk ke kosan ini. Karena kupikir, gurauan mereka pasti terdengar ketika sudah kembali. Beberapa kali aku mengamati sambil bermain korek api. Sandal sudah dimasukkan di persembuhnyian untuk menghilangkan jejak. Mifta datang menghampiriku sambil membawa keripik berbumbu –keripik bawang featuring kacang atom yang di tambahin bumbu tabur sendiri, dan itu lumayan enak, hehe-.
Dan tragedy dimulai.
     Kertika kami sedang menunggu suara dari lorong yang tak kunjung terdengar itu, tetiba suara yang dikenal muncul begitu saja di bawah pohon. Jadi ceritanya begini, tatapan kami tertuju ke bawah, dan di bawah itu ada pohon entah apa namanya (blimbing wuluh cah.. :-p) yang tumbuh hingga ke atap lantai dua. Dan pohon itu menaungi bagian –bisa di bilang halaman- di lantai 1. Seketika kami gugup. Reflek aku berbalik kemudian berlalu menuju tempat persembunyian. Salah satu kamar kosong tempat penyimpanan barang-barang baru menjadi tempat persembunyian. Dengan sigap mifta menutup pintu dan mematikan lampu. Secara di sana tidak ditempati, mencurigai jikalau lampu kamar menyala. Berdua mengais nafas dan menahan tawa tanpa suara. Ohhh,, nyeseknya. Disana tidak begitu gelap, jadi kami masih bisa menatap satu sama lain. Kemudian mifta mengkode untuk mengeluarkan roti tertancap lilin dengan angka 2 dan 0 itu.  Ahh, sangat tidak mungkin untuk menimbulkan suara kresek pembungkus itu. Kemudian kami menahan tawa lagi. Mendengar betapa obrolan mereka begitu absurd dan sangat berisik. Setiap terdengar langkah kaki mendekat ke kamar itu, seketika aku menahan napas dan tawa tanpa suara ini. Kulihat sebelumnya, mifta masih memegangi keripik bawang itu dan bahkan salah satu tangannya menggenggam keripik yang terjebak di mulutnya. Persembunyian macam apa ini jika makan keripik dan “kriuk kriuk”?. Akhirnya keripik di letakkan dan dia menyimpan potongan keripik di mulut hingga melunak tanpa suara –haha-. Mifta bilang dengan berbisik
“sampai kapan kita akan bersembuhnyi disini pik”
“entahlah, kasih kode ke budi” jawabku tanpa suara
Kemudian, kode kode an dengan budi melalui Lin* pun dimulai.
Me : Bud, nanti kalau ke kamar mandi bilang ya
Budi : Oke
     Langkah kaki mulai mendekat dan aku menahan suaraku. Sebenarnya, di dalam kegelapan itu cukup menyiksaku dengan menahan tawa tanpa suara ini. Agak lama untuk melanjutkan aksi berikutnya. Mifta berbisik lagi
“pik buruan rotinya di ambil, pas mereka lagi ngobrol keras itu kan bisa aja kreseknya ga bersuara”
“oh oke” kodeku.
  Perlahan kumasukkan kedua tanganku untuk memperoleh piring berisi roti tersebut. Kemudian mifta menariknya paksa hingga kue tersebut terbebas dari suara kresek tersebut. Kami mengatur posisi agar aku mudah untuk membakar sumbu lilin tersebut. Kami berdua menempel di dinding sebelah pintu. Ketika korek kayu itu akan kuayunkan pada baranya,,, Bam…!!! Seseorang membuka pintu tempat kami bersembuhnyi. Gagap tingkah ini karena kaget. Kutahan nafasku dan kumatikan gerakanku. Mataku tertuju pada arah cahaya itu masuk. Dan ternyata, kata mifta, pintu tersebut mengenai dirinya. Jadi, posisi kami ada di belakang pintu jika pintu itu dibuka. Mungkin waktu itu muka ini pucat pasi. Jantung bekerja begitu memaksa. Dan aku tidak tau apa yang akan terjadi, aku juga tidak tahu apa yang dirasakan mifta. Jangan sampai orang itu masuk dan melihat kami. Sekejap kupikir itu Budi, dan kupikir Budi akan memberikan sebuah kode. Karena sebelumnya, aku mengirimkan pesan,
“disuruh sholat bud”.
     Dari situ aku berfikir mungkin Budi akan memanggil kita untuk keluar. Ternyata tidak. Ternyata bukan. Gagap kami berdua ini malah menimbulkan tawa lagi. Sekuat tenaga aku menahannya. Kemudian, pintu tertutup kembali dengan kasar. Entah siapa yang membuka pintu barusan. Tanpa babibu lagi, kubakar kedua sumbu lilin tersebut dan kami keluar dari persembuhnyian sambil menyanyikan lagu kebangsaan saat berulangtahun namun tidak selesai. Kulihat ekspresi orang-orang ini semacam biasa saja –sial-. Tapi entah memang begitu ekspresi sok cool nya atau memang semua ini terkesan bisa saja. Dan taukah? Kaki tanganku cukup gemetaran karena insiden “buka pintu” tadi. Rasanya membawa kue pun tak sanggup, akhirnya kuserahkan kue itu ke empunya dan aku mengais nafas lagi. Kemudian tawaku meledak. Akhirnya aku bisa tertawa bebas. Nyayian kebangsaan ini kami ulangi lagi, dan tidak sampai selesai lagi. Akhirnya nyala lilinpun padam tertiup gas CO2 korban, Farid.
  FYI juga, kue itu dipegang sendiri sama yang sedang ulang tahun. Lalu aku dimana? Terduduk dengan lutut dan tangan gemetaran di ambang pintu, sambil terus mengais nafas. Darisitu, obroloan obrolan dan pengakuan tentang yang terjadi selama persembuhnyian pun terjadi. Disela-sela itu selalu terjadi tawa, dan selalu aku selalu lupa apa yang membuat kita tertawa. Ah, bukankah aku mudah membuat orang lain tertawa (bagian ini tolong diabaikan). Yup, setelah itu, mimip sebagai kurir tak dilantik menyerahkan kado titipan dari seorang teman. Mungkin, menurutku dia tak ingin di sebut disini. Paketan kado itu diterimanya masih orisinil. Plastik pengiriman pun masih utuh, kecuali robekan di bagian belakang itu. Dan Farid (untuk selanjutnya mari sebut dia korban saja) membukanya sendiri sampai ke dalam dalam. Akhirnya kami tahu juga apa isi kado tersebut. Setelah pelepasan bungkus kado pertama selesai, giliran hadiah dari kami berdua. Sederhana. Dan hadiah itu ada dua, satu untuk korban dan satu untuk Faza. Dalam kasus ini kami sebut dia ‘Babe’. Hadiah di dalamnya terbungkus tidak lama. Barusaja selesai dibungkus kemudian dibuka kembali. Yah, begitulah nasibnya. Yang dibahas memang bukan bendanya, melainkan ucapannya. Kekataku yang teramat ambigu nan absurd untuk mereka. Selepas mengobrol panjang lebar, akhirnya korban memutuskan untuk mandi dan menuju sholat. Jadi ceritanya, saat meniup lilin, korban itu berkalungkan handuk berwana pink, karena sebenarnya dia bersiap untuk mandi. Kemudian semua ini disudahi.
  Ketika korban bersiap untuk mandi, ide ini muncul untuk tidak menyia-nyiakan air yang sudah kutampung dalam ember di sana. Kuketik rencanaku di dalam note hape agar rencana kedua ini tidak gagal
“Mip, kita basahin dia pas selesai mandi aja, kan pas tuh keluar dari kamar mandi kemudian, Bam..!!” Dia menyetujuinya.
  Setelah korban masuk dalam kamar mandi, kami mengendap-endap menuju arah ember berisi air tersebut. Budi, mengelabuhi korban dengan menanyai kapan korban selesai mandi. Bagus juga langkahnya untuk melancarkan aksi kami. Tetiba korban lantang bertanya kepada Budi dari dalam kamar mandi, pertanyaan ini aslinya dalam bahasa Jawa, namun disini, sudah kutuliskan dalam bahasa Indonesia.
“Bud, Fiani dan Mifta udah pamit belum?”
“Udah, emang kenapa?
“Aku mau keluar, mau ngambil sabun” . Mungkin sabunnya ada di kamar.
  Mendengar seruan itu, kami yang tadinya sudah memegang ember dan gayung yang masing-masing sudah berisi air menemukan kepanikan lagi. Gagap kami berlari untuk bersembuhnyi. Ada tangga kecil di sebelahku berdiri, tanpa pikir panjang, kuturuni untuk bersembuhnyi. Dan kata Mifta, dia bersembuhnyi di tempat pertamakali kami bersembuhnyi. Lagi-lagi aku mengais nafas sembari menunggu semua kembali ke kondisi normal. Percikan air mulai terdengar kembali, itu pertanda dia sudah masuk kamar mandi dan melanjutkannya. Pun aku kembali ke posisi semula, menaiki tangga dan menuju kepada ember. Tidak lama kami menunggu korban mandi. Sepenggal babe berkata dalam bahasa Jawa, dan lagi-lagi sudah kutulis dalam bahasa Indonesia
“Hati-hati, kadang dia keluar hanya mengenakan handuk atau celana pendek”
     Entahlah, kupikir itu bukan hal yang penting selama aku bisa mengguyurkan air tersebut padanya. Dan sedikit berharap bahwa dia tetap mengenakan celana jeans dan kaos seperti saat dia meniup lilinnya. Dan, ‘ceklek’. Benar, dia sudah selesai mandi. Keluar menggunakan celana jeans dan kaos putihnya. Posisi kamu sudah siaga. Ember dan gayung berisi air siap untuk dimuntahkan saat itu juga.
“Byuuuuarrrrrssss…”. Mungkin aku agak salah menuliskan bagaimana suara air yang ditumpahkan dan air tersebut memecah ketika mengenai sebagian badannya. Setahuku seperti itu, menurut sajalah. 
     Yap. Seingatku, separuh badannya terguyur air. Dan itu, menyenangkan. –Haha, tertawa setan-. Tragedi mulai basah ini disusul budi dari arah kamar mandi. Mengangkat ember besar yang sejatinya sebagai penampung air di bak mandi, kemudian digurukan kepada korban. Terang saja Budi kemudian kalah. Ember tersebut kini berpindah tangan dan sekarang matilah aku. Korban mengguyurkan air dari ember besar itu ke arahku. Untung saja ember yang kupegang masih berada di tangan dan aku melindungi badanku dari basah. Air yang ditumpahkannya sebagian masuk ke dalam ember yang kubawa. Sisa air yang lain membasahi celanaku dari lutut ke bawah. Kemudian posisiku terkunci di sana. Sepertinya Mifta juga terkena guyuran korban. Dan rok di bagian bawahnya basah, kemudian dia berlari mencari perlindungan. Tinggallah aku sendirian terjebak dalam posisi penuh air. Oh iya, kami mengguyurnya dua kali. Dan guyuran kedua itu ditangkisnya menggunakan handuk. Katanya, itu handuk satu-satunya yang ia bawa –aku juga Cuma bawa handuk satu-, tapi kenapa justru dia menangkis air itu pake handuk. Pppfftt. Dan, setelah semua senjata penampung air itu diletakkan, dan dengan posisiku untuk menyelamatkan diri, ya, handuk basah itu ditelungkupkan padaku. Itu iyuuuhhh. Kuperlebar pertahananku dari basah. Tudung jaketku kutelungkupkan pada kepala sambil berlari. Dan akhirnya, dia sepenuhnya basah. Hahaha. Puas rasanyah. Dan lagi, aku bisa mengatakan apa yang pernah dia katakana ketika melakukan hal yang sama padaku tahun lalu
“Celana jeans susah keringnya kan?”
  Begitulah kronologis bagaimana aku bisa mengguyur seseorang yang pernah juga berkomplot untuk mengguyurku tahun lalu, dengan tanganku sendiri. Karena tahun lalu, sepertinya kesempatan itu tak dapat dilakukan karena, liburan. Kupikir ini bukan ajang balas dendam. Karena frase tersebut seperti memiliki makna yang buruk, sedangkan, kupikir hal ini bukan seburuk-buruknya hal (iya kan? Hehe). Kemudian, begantilah ia dengan kostum yang lain. Sedang sisanya menunggu sambil mengais nafas kembali. Cukup dingin sebenarnya kakiku saat itu. Tapi, sepertinya istirahat sebentar sambil mengobrol lebih membantu untuk menenangkan diri. Seusai semuanya, kami berdua kembali ke kos sebelah, kos putri. Dan sampai jumpa pada mereka. Terimakasih telah memberiku kesempatan merasakan mengguyur orang, karena sebelumnya, tangan ini terlalu baik untuk melakukan hal semacam itu. Sekian ^^.


You May Also Like

5 komentar

  1. Wakakaakkaka, aku ngekek baca ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. heehe,, nek kelingan we ngekek dewe,, >.<

      Hapus
    2. Peh.. Kamu ketawa d bagian mananya?

      Hapus
    3. kok selang waktu komen pertama sama kedua nya jauh ya? haha :D
      semuanya. melu mbayangke.....

      Hapus
    4. soalnya itu yang kedua adalah pertanyaannya mifta

      Hapus

. . . .