Hari pertama, yang kedua

by - Oktober 11, 2013

"Fir, betah kamu berdiri disana? Jangan mengejek.."
     Fira masih terdiam disana. Seakan menunjukkan bahwa dia marah kepada Elit. Mengapa harus pertanyaan itu yang terlontar ketika mereka sedang di tempat ini. Mengapa harus sepagi ini pikiran itu ada di dalam kepala Elit.
"Bagaimana kalau suatu saat aku bertemu dengannya? Apakah aku akan merasakan debar yang berbeda?" . Elit
     Fira semakin merintih. Menahan apa yang dapat dia tahan adalah senjata terakhirnya. Ia tetap mematung dengan kedua lengan dieratkan di atas perut. Menjaga diri dari keinginan untuk pergi.
"Semoga suatu saat kamu dapat bertemu dengannya, hingga kamu tau sendiri apa yang kamu rasakan, dan apa yang seharusnya kamu rasakan" . Fira
"Akhirnya kamu bersuara" . Elit
     Sejatinya, air mata sudah menjelajah jalannya. Pipinya mulai basah selain dari embuh pagi. Matanya memerah, pandangnya kabur berantakan. Mulutnya sedikit terbuka sebagai usahanya untuk bernafas, karena hidung tak dapat menyembuhnyikan sebuah tangisan.
"Fir, bagaimana kalau kita temui dia?" .
     Tak tahan, Fira berlari. Meninggalkan Elit yang tak mungkin dapat menyusulnya. Di tepi danau itu, di samping akar pohon yang besar, Elit terduduk tak berdaya melihat pelarian Fira.
"Fir,,!!!" 

You May Also Like

0 komentar

. . . .