Hari Pertama

by - Oktober 10, 2013

     Beberapa hari setelahnya, Elit menobatkan Fira sebagai teman dekat. Seseorang yang pertamakali dia lihat di dunia ini setelah kejadian yang membuatnya lupa akan segala. Mereke berdua, terduduk di bibir danau. Pagi berkabut masih menyelimuti hingga membuat jarak pandang Elit terbatas. Ia tak dapat melihat pegunungan di ujung sana. Tidak berlaku bagi Fira. Dia melihat jelas, jelas sekali. Di ujung sana ada gunung, gunung yang pernah mereka datangi untuk hanya sekedar melihat seberapa jauh tempat favorit mereka dari ujung yang berbeda. Korneanya berkaca, bulir tertahan tanpa kata.
"Tempat ini bagus ya, aku suka. Kamu sering kesini?" . Elit
"Iya, indah kan. Sering, berdua bersama seseorang yang menyebalkan." . Fira
"Siapa?" . Elit
"Rahasia, wlek" . Fira
      Elit mendengus. Ingin sekali ia beranjak, namun tak bisa. Sebelah kakinya terbungkus erat oleh gips, susah untuk diajak kompromi kecuali ada bantuan dari orang lain. Akhirnya Elit membuang muka.
"Engga usah sok marah gitu, kebiasaan.." . Fira
      Dahi Elit berkerut. Benaknya bekerja, dan bergumam dalam hati, sepertinya Fira memang sahabat terdekatnya. Elit memang tak pernah bisa marah. Kemudian mereka terdiam sembari melihat bayang yang mereka ciptakan sendiri di atas danau. Seperti melihat lampu sorot dan ada adagan imaginasi mreka masing-masing. Kemudian mereka menoleh secara bersamaan. Kemudian tersenyum.
"Fir, taukah kamu?"
"Apa?
"Siapa orang yang kusukai?"
Dheg.
"Pernahkah ia kuceritakan padamu?"
      Keadaan menjadi hening kembali. Fira menatap jauh kedepan, seakan melanjutkan apa yang sedang dia fikirkan tanpa menanggapi apa yang ditanyakan Elit.
"Iya tau. Seseorang disana."
"Siapa?"
"Tidak adakah pembahasan lain?"
"Bagaimana orangnya Fir?" 
"Dia cantik, hidungnya mancung, semampai, putih, rambutnya panjang mengombak, dan cerewet, itu katamu padanya."
"lalu?"
     Fira beranjak. Mendekati air danau yang dingin. Ia menahan, menahan bulir yang benar benar ingin jatuh. Yang dia bicarakan bukanlah dirinya sendiri. Fira juga tidak tahu, apakah sebelum semuanya hilang, ada dirinya dalam hati Elit. Yang dia tau, semua masih tentang orang itu.
"Fir, ceritakan lebih banyak." 

You May Also Like

0 komentar

. . . .