Repost : Bayangkanlah

by - Oktober 22, 2013

     Ketika hendak menyerah, hendak menanggalkan apa yang tengah kita usahakan, bayangkanlah, suatu saat kita bercerita tentang perjuangan yang tuntas, dengan begitu semangat, dengan begitu berapi-api, pada ia yang hendak berputus asa. 
     Bayangkanlah, boleh jadi hati yang gusar itu jadi tenang perlahan-lahan. Mendengar kisah-kisah kita yang menyedihkan, kisah-kisah yang meninggalkan bekas luka dalam episode masa lalu, berakhir manis. Berlabuh pada tepian dermaga cita-cita kita. 
     Coba bayangkan. Bayangkan dalam-dalam. Suatu waktu kita menertawakan rintangan-rintangan yang kita sebut ‘dulu’, yang pada masanya mengundang air mata hingga menderas, lantaran demikian berat beban-beban itu. Memaksa kita tuk berlari, memaksa kita tuk melompat, sambil menanggung rasa takut akan kegagalan. Akan kekecewaan pada wajah kedua orang tua kita, kawan, semuanya. Maka bayangkanlah. 
     Bayangkan ketika hendak menyerah, gumpalan sedu sedan berubah jadi keyakinan, himpitan kesulitan perlahan pudar oleh dada yang jadi lapang, sebab menyimak keteguhan kita yang mendobrak rasa ragu, rasa rendah yang menipu, hingga peluh berubah jadi mutiara. Sekali lagi bayangkanlah. Ada wajah-wajah yang berbinar dan berterima kasih. Ada senyum haru yang menyeka air mata. Setelah mereka memperhatikan jejak-jejak kita. Hingga terbit rasa kepastian dalam dada, tak kan gentar berjalan seribu langkah lagi. Tak kan goncang oleh sekedar ayunan gelombang kekhawatiran. Lalu bersiap dengan mengencangkan rasa sabar. Tuk bertarung lagi dan bertarung lagi. Tuk memperjuangkan manisnya kebahagiaan, dalam petualangan yang menjanjikan banyak kisah dan pelajaran. Bayangkanlah.. Achmad Lutfi
Wolfsburg, 20.10.2013

You May Also Like

0 komentar

. . . .