Hari pertama yang ketiga

by - April 01, 2014

"Orang macam apa dia meninggalkan sahabat cacatnya di tempat seperti ini." Gerutu Elit.

     Rasanya, Fira tidak ingin menemui Elit lagi. Rasanya, dia ingin membiarkan ingatan Elit hilang selamanya. Agar dia hilang bersama wanita yang sekarang mulai mengganggu fikirannya. Rasanya Fira menyesal telah mengenalkan kembali kehidupannya kepada seseorang yang kehilangan seluruh kenangan bersama. Berhenti, tersimpuh, menunduk bersamaan dengan derai air matanya. Fira membayangkan apa yang telan terjadi dan apa yang akan terjadi. Mengulang seluruh kenangan.
"akhirnya kamu datang, lama sekali. Kau tak tau aku sudah kedinginan di tempat lembab seperti ini. Banyak nyamuk tau. Aku terlalu manis untuk mereka, tidakkah kau cemburu? Bantu aku berdiri, aku ingin pulang" Elit.
     Fira diam. Hanya menatap Elit yang bicara panjang lebar dengan memunggunginya. Elit tidak menyadari, betapa raut Fira sudah begitu hancur. Seolah hatinya pindah tepat dimukanya. Merah, basah, lemah. 
"Fir, kam-" Elit.
     Ya, akhirnya Elit berbalik. Terbelalak matanya. Tertegun tubuhnya. Kaku. Mematung. Elit tidak mengerti mengapa Fira begitu terlihat kacau. Matanya merah, terlalu berkaca-kaca, terlalu pecah. Kedua pipinya terlihat basah terguyur air mata. Hidungnya mulai memerah dibagian ujung. Mulut dilipatnya kedalam. Sebenarnya, apa yang Fira rasakan? Setengah mati Elit mengulang apa yang barusaja terjadi kepada mereka.
"Apakah dia cemburu pada nyamuk? Kurasa itu bodoh. Apakah dia, tidak suka ketika aku bertanya tentang,,-" Gumam Elit dalam hati dengan tetap menatap Elit.
"Fir, kamu kenapa?" Elit
     Terburu Fira mengambil kursi roda yang terletak sekitar sepuluh langkah dari tempat mereka duduk sebelumnya. Segera Ia tatih Elit untuk duduk. Mendorong kursirodanya perlahan, tetap menjaga kenyamanan Elit. Dia sudah tak menitikkan air mata lagi. Rasanya, Fira sudah kembali pada keadaan dimana ia harus menjaga kesehatan Elit. Takut-takut banyak yang Elit fikirkan, akan menganggu jalannya untuk sembuh total.
"Fir ada ap-"
"Sudah diam. Tak lihat aku lebih kedinginan begini darimu? Daridulu kamu memang curang, tak rasa aku juga sedang demam begini? Diam, kita hampir sampai."
     Fira berbohong. Untuk pertamakalinya dia bervohong sejak Elit yang dulu hilang. Nafas ia atur sedemikian rupa agar tak terdengar dengusan kesedihan. Bahkan Fira berlagak sakit dan kedinginan, padahal Elit merasa, pagi berkabut disana tidak mempengaruhi suhu udara yang ekstrim. 
"Mungkinkah Fira berbohong adaku?" Tanya elit pada ujung jemari kakinya. 
 
 
 
 
 
 

You May Also Like

0 komentar

. . . .