Kebencian Pertama

by - Januari 30, 2015

     Selamat sore, selamat hari Jumat. Semoga harimu berkah dan bermanfaat..

     Ini adalah kali pertama aku menuliskan surat untukmu. Dan selama 29 hari kedepan, akan ada 29 surat juga yang mungkin akan kutunjukkan padamu. Aku berharap, kamu rela membaca suratku, satu demi satu..

     Disini juga, akan kutuliskan kali pertama aku dan kamu bertemu. Bagaimana yang kualami dan apasaja yang kupikirkan untukmu.

     Siang itu, aku datang padamu. Kepada sosok yang samasekali belum kukenal. Tak tau nama tak tau posisi.  Yang kutau, kamu dan satu temanmu itu menjadi eksekutorku dalam sebuah acara. Andai saja waktu bisa dihentikan kala itu. Mungkin akan banyak kosa kata dan penilaian yang banyak didalam kepalaku tentangmu. Kali pertama aku menjumpaimu, di dalam ruangan yang cukup sempit, kamu duduk bersebelahan dengan temanmu. Cukup rupawan, dengan beberapa aksen wajah yang membuatku sedikit bergumam "hey tampan". Yah, karena waktu begitu berlanjut, pandangan pertamaku terhadapmu terhenti sampai disitu saja.

     Kemudian kita, dengan temanmu juga, mulai berbincang. Dari A-Z yang mungkin kamu merasa hal ini bukan hal yang penting. Tapi, bagiku, hal ini menjadi hal yang penting sebagai pertemuan pertama. Disitu, kamu terlalu memojokkanku. Sesi eksekutormu terlalu tajam bagiku. Tawa kecutmu sudah melukaiku walau hanya sedikit. Malu. Jujur aku malu padamu. Aku sadar, pertanyaan seperti itu sebenarnya bisa dilogika. Hanya saja, mungkin aku sedikit teralihkan karena siang itupun konsisi tubuh ini sedang tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Baiklah, seharusnya aku bisa lebih profesional, tapi itu kenyataannya. Kurang fokus untuk menanggapi pertanyaanmu. Ada sedikit luka karena tawa. 

     Ketika kita sudah selesai dengan semuanya pada hari itu, kulangkahkan kaki dengan sendu. Sedih ketika teringat akan semua. Sempat berharap untuk tak dapat bertemu denganmu lagi. Sempat mengumpat tentang sosokmu juga. Rupawanmu tertutup oleh semua perlakuanmu.. Ya, semua..

     Tapi, aku tak sampai lama aku menaruh kebencian padamu. Aku sadar diri, siapa aku dan siapa kamu. Bisa jadi kita tidak akan pernah dipertemukan kembali, juga sebaliknya.. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Kita, bukan. Aku lebih tepatnya, dipertemukan lagi kepadamu. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan bahwa yang sempat terjadi lalu bukanlah kamu yang sebenarnya, bahwa yang kusimpulkan tentangmu adalah salah. Dan, ya.. 29 surat selanjutnya, akan kutuliskan pemberitahuan Tuhan kepadaku segala tentangmu..

     Terimakasih, selamat hari Jumat :)

You May Also Like

2 komentar

. . . .