Yang Mulai Berakhir

by - Februari 02, 2015

     Selamat malam, selamat hari senin. Hari ini adalah hari ke-empat. Seharusnya, surat ke-empat ini masih dan akan selalu tertuju kepada sosok yang sama di surat sebelumnya. Namun, aku mencuri kesempatan, sekali saja. Surat ini kutujukan kepadamu, ujung tombak kami.
     Ada yang sudah merasa nyaman ketika kita sedang bersua. Seperti ketika aku terpaksa duduk diselasar taman kota, padahal sebenarnya aku ingin duduk dikursi bawah pohon sana. Dan karena mulai terlalu lama, selasar pun menjadi sudut terbaik ketika ternyata ada sosokmu yang sedang terduduk di kursi bawah pohon sana. Aku bisa menikmati punggungmu. Rambutmu yang lurus, dan lantunan nada ukulele mu yang seru. Hamparan hijau, cipratan air, dan hawa silir yang mengitari mulai mengikis rasa terpaksa yang sedari tadi ada. Seperti itulah kira-kira analoginya. Jangan tanya bagaimana maksudnya karena kamu pasti tahu apa artinya.
     Lalu bagaimana denganmu? 
     
     Bagian ini mungkin menjadi bagian paling membosankan dari sebuah pendeskripsian. Kau tau apa? Ketika berbicara denganmu, ketika menopang beban yang sama denganmu, ketika bercanda denganmu, dan semua ketika denganmu. Itu kalimat kalimat yang mungkin amat sangat membosankan. Tapi ternyata, itu semua benar kok. Memang begitu keadaannya.
     Tapi,
     Semua itu sudah berakhir. Sudah mulai berakhir. Bukan lagi kita yang akan berbagi satu sama lain lagi. Bukan lagi aku yang bisa membercandaimu lagi. Semuanya pergi. Semua yang mulai nyaman ini terpaksa harus diakhiri. 
     Sesungguhnya, aku masih ingin mempertahankanmu. Mendorongmu dari belakang. Memastikan bahwa apa yang sedang kamu perjuangkan itu terasa ringan karena ada aku yang membantu menopangnya. Kau tau itu?
    Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh seorang mahkluk lemah sepertiku? Yang hanya bisa menerima titah Tuhan sesuai dengan usahaku saja? Kau pergi menemui-Nya. Dan aku disini kembali terpaksa berada disebuah sudut yang tidak kuinginkan. Aku tidak ingin bilang kamu meninggalkanku, aku hanya ingin bilang.. Ternyata aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan padamu. Selamat jalan. Samapai jumpa lagi.  Semoga kamu mendengar salam perpisahanku desela doa-doa yang kupanjatkan. Aku akan selalu disini, untuk mendukungmu. :)

    Selamat malam, selamat hari Senin.

You May Also Like

0 komentar

. . . .