Diam Atau Ungkapkan

by - Juli 19, 2015

        Ada Siang ada Malam. Ada Besar dan ada Kecil. Ada Ya dan ada Tidak.

     Aku pernah membaca kisah cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Azzahra. Dimana kisah keduanya dikatakan saling memiliki sebuah perasaan yang disimpan rapat sampai kepada waktu yang ditentukan. Diceritakan bahwa Ali memasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Ketika Fatimah dilamar oleh banyak laki-laki yang memiliki segala hal yang lebih dibanding Ali, beliau merasa rendah diri dan menganggap "siapa aku dibanding mereka, aku bukan apa-apa, cuma lelaki miskin yang punya satu baju besi dan gandum kasar sebagai persediaan makan". Tapi pada akhirnya, ketiganya ditolak dan Rasulullah saw lebih memilih Ali dengan satu kalimat, "Ahlan wa sahlan", dimana kedua kata tersebut berarti "Ya". Dan diakhir cerita, Fatimah menyebutkan bahwa beliau meminta maaf karena pernah mencintai seseorang sebelumnya, yaitu Ali.
     Bagaimana sebuah perasaan dapat disinpan dengan rapat, dan hanya kepadaNya sajalah dapat diungkapkan. Bagaimana sebuah keikhlasan menerima sebuah kenyataan, bahwa perasaan tersebut tidak melulu memang harus memiliki. Bagaimana sebuah perjuangan dengan hanya mengandalkan keberanian dapat menuai hasil yang diusahakan dalam doanya. Aku juga ingin seperti Fatimah, :)



     Sebaliknya. Masa kini adalah masa dimana tidak melulu perasaan menyukai hanya disiman rapat-rapat. Banyak untaian-untaian kalimat yang mengusik kerahasiaan itu. Dituliskan bahwa 
"Cinta harus diungkapkan apapun yang terjadi. Tidak peduli dia akan membalasnya atau tidak. Yang terpenting adalah perasaanmu sudah tersampaikan, dan kau tidak akan menyesal dengan itu."
     Ya, seperti itulah hal kekinian saat ini. Tidak memandang itu laki-laki atau perempuan, ungkapkan saja jika tidak ingin menyesal. Ungkapkan saja, mungkin sebenarnya, kalian berdua memiliki perasaan yang sama dan bisa meneruskan ke tahap selanjutnya. Ungkapkan saja, sebelum kalian benar benar akan jauh karena hal yang menyibukkan setiap masing-masingnya.

     Dua hal itu, menurut pemikiran bodoh ini semua ada benarnya. Sering terbesit untuk merahasiakannya rapat-rapat. Siapapun itu kepada siapapun juga. Tapi terkadang, ketika sudah menemukan seseorang yang dipercaya untuk diajak bicara, yang diusahakan untuk dirahasiakan pun gagal. Selama ini, sudah berusaha untuk melakukannya, walaupun ternyata usahaku pun gagal. 
     Tetapi juga. Pernah terlintas untuk mengungkapkannya sebelum kami benar-benar tidak dapat bersua secara langsung misalnya. Seperti ketika aku membuatkan sesuatu untukmu, ingin sekali memberikannya dengan beberapa kalimat memalukan. Walaupun entah kamu menyukainya atau tidak, dan entah bagaimana caranya aku memberikannya kepadamu. Jelas, hal itu ingin kulakukan karena musabab yang kedua, "hanya ingin memberitahumu dan tidak ingin menyesal". Alasan kedua itu aku tidak yakin. Entah akan menyesal atau justru malu seumur hidup. Tetapi keinginan itu selalu ada bersamaan dengan "tidakkah kau ingin menyimpannya rapat-rapat?"

     Sampai saat ini, aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan. Kalau kalian memiliki pemikiran yang sama, lebih memilih yang mana? Diam atau ungkapkan?


Dan bahkan ketika aku menulis ini, aku sangat malu.. 

You May Also Like

0 komentar

. . . .