Nggak Jadi Best

by - Oktober 20, 2015

     "Punish" ? Di paragraf terakhir aku menuliskan sesuatu mengenai "best of my self". Terus apa masalahnya? Yuk disimak..
Selamat siang,, selamat hari Selasa.. Apakabar blog ku? kamu baik baik saja kan setelah dua bulan kutinggalkan.. Sebenernya aku juga mau nulis banyak disini dari kemaren kemaren, tapi apalah daya jemari tak sanggup. Oke, sekarang aku pengen menuliskan sesuatu. Sesuatu yang meneruskan dari tulisanku sebelumnya. Masih inget soal tulisanku yang judulya
     Pas itu, setelah usai menjabat sebagai karyawan kontrak dari Dagadu selama 8 bulan, setelah diwisuda, dan kemudian dari pihak kantor memberikan sebuah pertemuan untuk berbagi ilmu. Pertemuan itu membahas masalah wawancara kerja dan hal-hal yang bersinggungan dengannya. Entah kapan waktunya aku sudah lupa. Yang jelas, hari itu panas dan kami berkumpul di pendopo gerai. Ada dari pihak HRD yang memberikan pengarahan kepada kami. Aku pengen sebut nama, tapi rasanya ragu, jadinya nggak usah aja. Disana kami diberi banyak hal informasi mengenai wawancara kerja. Dan nggak akan kusebutkan disini karena sebenarnya aku juga udah lupa je.. Huaha. Yang kuingat cuma kue nastar buah sama martabak.
     Ada satu hal yang menjadi palu bagiku saat ini. Kalimat dari beliau yang membuatku merasa "agak menyesal untuk tidak menjadi anak nakal". Kenapa ditanda kutip? Kenapa dengan anak nakal?.
Memang apa kalimat dari beliau? Ya. Jadi gini. Beliau menanyai beberapa orang yang lain "siapa yang pernah melakukan punish?, yaa yang lain yang pernah kena sih cuman mesam mesem. Kemudian beliau menanyai lagi "siapa yang pernah dapet best? best apa aja?" , namanya juga best, otomatis yang pernah dapet mah anteng aja buat angkat tangan. Terus beliau nanya lagi "menurut kalian best itu apa?", ada temenku yang jawab, "tidak ada punish, nggak pernah telat". Aku mendengarkan, dan aku bergumam, "iya benar, best of my self". Tapi, taukah kamu apa respon beliau seketika itu? Beliau mengatakan kalau itu bukan best. Itu bukan prestasi, ibaratnya kayak kalian sekolah terus selalu ngerjain PR dan nggak  pernah telat. Biasa itu,  standart. Katanya.
     Seketika pikiran ini langsung melayang pada moment terusan internalan di pendopo ini juga, awal kontrak lalu. Ada salah satu, dan atau mungkin seluruh SPV sepakat kalo bersih tanpa punish adalah suatu kebanggaan tersendiri. Dan aku anak bawang ini mengamininya. Kerja bersih tanpa pelanggaran bakal menjadi "best of my self pada diri kalian masing-masing" katanya. Sementara sekarang, hal yang pernah kuamini itu menjadi patah berkeping-keping. Bukan, bukan berarti rasanya seperti patah hati, tapi gimana ya, you know lah gimana rasanya kalimat yang kalian pegang tapi ternyata gak berarti apapun bagi orang lain.
     Dari sini, dari waktu itu, langsung terbesit rasa "agak" menyesal. Kenapa kemaren nggak pernah iseng bikin punish? hahaha.. Sekali kali-kali bikin catatan buruk. Sekali-kali cari perhatian temen seangkatan. Karena rasanya, kalo jadi sekarang yang udah gak kerja lagi, jadi gak ada yang seru buat diceritain. Garisnya lempeng-lempeng aja. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya udah lah ya gak papa. Lagian dulu kalo misalnya kena punish beneran juga takut. Hehehe... Udah sih itu aja. Kesimpulannya apa ya? mm~

You May Also Like

2 komentar

. . . .